Our Blog

Minggu, 02 Juli 2017

Manajemen Kelas

A.                 Mengapa Kelas Perlu Dikelola Secara Efektif?

Manajemen kelas yang efektif akan memaksimalkan kesempatan pembelajaran murid (Charles, 2002; Everstson, Emmer, & Worsham, 2003). Para pakar dalam bidang manajemen kelas melaporkan bahwa ada perubahan dalampemikiran tentang cara terbaik untuk mengelola kelas. Pandangan lama menekankan pada penciptaan dan pengaplikasian aturan untuk mengontrolpembelajaran murid. Sedangkan pada pandangan yang baru memfokuskan pada kebutuhan murid untuk mengembangkan hubungan dan kesempatan untuk menata diri (Kennedy, dkk., 2001). Manajemen kelas yang mengorientasikan murid pada sikap pasif dan patuh pada aturan ketat dapat melemahkan keterlibatan murid dalm pembelajaran aktif, pemikiran, dan konstruksi pemikiran sosial (Charles & Senter, 2002).

B.                 Mendesain Lingkungan Fisik Kelas

1.                  Prinsip Penataan Kelas

Berikut ini empat prinsip dasar yang dapat dipakai untuk menata kelas (Evertson, Emmer, & Worsham, 2003):
      • Kurangi kepadatan di tempat lalu-lalang. Gangguan dapat terjadi di daerah yang sering dilewati. Daerah ini antara lain area belajar kelompok, bangku murid, meja guru, dll. Pisahkan area-area ini dan pastikan mudah untuk diakses.
      • Pastikan bahwa pengajar dapat dengan mudah melihat semua murid.Tugas manajemen yang penting adalah memonitor murid secara cermat. Untuk itu, pengajar harus bisa melihat semua murid.
      • Materi pengajaran dan perlengkapan murid harus mudah diakses. Ini akan meminimalkan waktu persiapan dan perapian, dan mengurangi kelambatan dan gangguan aktivitas.
      • Pastikan murid daapat dengan mudah melihat semua presentasi kelas.Untuk aktivitas ini, murid tidak boleh memindahkan kursi atau menjulurkan lehernya. Untuk mengetahui seberapa baik murid dapat melihat dari tempat mereka, duduklah di kursi mereka.

2.                  Gaya Penataan

      • Gaya auditorium, layaknya seperti metode ceramah.
      • Gaya tatap muka, metode dengan murid saling berhadapan.
      • Gaya seminar, sejumlah besar murid (10 atau lebih) duduk di susunan berbentuk lingkaran, atau persegi, atau berbentuk U.
      • Gaya off-set, sejumlah murid (biasanya tiga atau empat anak) duduk dibangku tetapi tidak berhadapan langsung satu sama lain.
      • Gaya klaster, sejumlah murid (biasanya empat sampai delapan anak) bekerja dalam kelompok kecil. Susunan ini terutama efektif  untuk aktivitas pembelajaran kolaboratif.

C.                 Menciptakan Lingkungan yang Positif untuk Pembelajaran

1.                  Strategi Umum

Strategi ini berasal dari gaya parenting Diana Baumrind (1971, 1996). Beberapa strategi umum yang dapat digunakan, seperti berikut:
·         Menggunakan Gaya Otoritatif. Seperti orang tua yang otoritatif, guru yang otoritatif akan punya murid yang cenderung mandiri, tidak cepat puas, mau bekerja sama dengan teman, dan menunjukkan penghargaan diri yang tinggi. Strategi manajemen kelas yang otoritatif akan mendorong murid untuk menjadi pemikir yang independen dan pelaku yang independen tetapi strategi ini masih menggunakan sedikit monitoring murid. Guru yang otoritatif melibatkan murid dalam kerja sama give-and-take dan menunjukkan sikap perhatian kepada mereka. Guru yang otoritatif akan menjelaskan aturan dan regulasi, menentukan standar dengan masukan dari murid.
·         Menggunkan Gaya Otoritarian. Gaya manajemen kelas yang otoritarian adalah gaya yang restriktif dan punitif. Fokus utamanya adalah menjaga ketertiban di kelas, bukan pada pengajaran dan pembelajaran. Guru otoriter sangat mengekang dan mengontrol murid dan tidak banyak melakukan percakapan dengan mereka. Murid di kelas yang otoritarian ini cenderung pasif, tidak mau membuat inisiatif aktivitas, mengekspresikan kekhawatiran tentang perbandingan sosial, dan memiliki keterampilan komunikasi yang buruk.

·         Menggunakan Gaya Permisif. Gaya ini memberi otonomi yang banyak pada murid tapi tidak memberi banyak dukungan untuk pengembangan keahlian pembelajaran atau pengelolaan perilaku mereka. Tidak mengejutkan, murid di kelas permisif cenderung punya keahlian akademik yang tidak memadai dan control diri yang rendah.

Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

A.                 Siapakah anak yang menderita ketidakmampuan itu?

Dahulu istilah “ketidakmampuan personal yang membatasi pelaksanaan fungsi seseorang (disability)” dan “kondisi yang dinisbahkan pada orang yang menderita ketidakmampuan (handicap)” dapat dipakai bersama-sama, namun dari kedua istilah ini harus dibedakan.

Para pendidik mulai lebih sering menggunakan istilah “children with disabilities” (anak yang menderita ketidakmampuan) dari pada “disabled children” (anak cacat). Ini semua memiliki tujuan agar lebih memberi penekanan pada anak, melainkan bukan kepada cacat atau ketidakmampuannya. Anak-anak yang menderita cacat/ketidakmampuan sekarang tidak bisa lagi disebut dengan ”handicapped” walaupun istilah dari handicapping condition masih digunakan untuk menjelaskan hambatan belajar maupun fungsi dari orang yang mengalami ketidakmampuan itu sendiri.

Seperti anak yang menggunakan kursi roda memiliki akses yang terbatas untuk ke suatu tempat yang ingin dia tuju lain halnya anak yang tidak menggunakan kursi roda, maka ini disebut juga dengan handicapping condition. Berikut pengelompokan ketidakmampuan dan gangguan (disorder) sebagai berikut: gangguan organ indra (sensory), gangguan fisik, retardasi mental, gangguan bicara dan bahasa, gangguan belajar (learning disorder), attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan gangguan emosional dan perilaku.

B.                 Gangguan Indra

Gangguan Penglihatan. Anak-anak yang menderita low vision punya jarak pandang antara 20/70 dan 20/200 (pada skala Snellen dimana angka normalnya adalah 20/20) apabila dibantu lensa korektif. Anak low vision dapat membaca buku dengan huruf besar-besar atau dengan bantuan kaca pembesar. Anak yang buta secara edukasional (educationally blind) tidak bisa menggunakan penglihatan mereka untuk belajar dan harus menggunakan pendengaran dan sentuhan untuk belajar. Kira-kira 1 dari 3000 anak tergolong educationally blind.

Gangguan Pendengaran. Gangguan pendengaran dapat menylitkan proses belajar anak. Anak yang tuli secara lahir atau menderita tuli saat masih anak-anak, biasanya lemah dalam kemampuan berbicara dan bahasanya. Dalam kelas Anda mungkin ada anak seperti ini yang belum terdeteksi. Jika anda melihat murid mendempetkan telinganya ke speaker, sering meminta pengurangan penjelasan, tidak mengikuti perintah atau sring mengeluh sakit telinga,dingin dan alergi, suruh mereka untuk memeriksa diri ke THT (Patterson & Wright, 1990).

C.                 Gangguan Fisik

Gangguan Ortoprdik. Gangguan ortopedik biasanya berupa keterbatasan gerak atau kurang mampu mengontrol gerak karena ada masalah di otot, tulang, atau sendi. Tingkat keparahan gangguan ini bervariasi.

Cerebral Palsy adalah gangguan yang berupa lemahnya koordinasi otot, tubuh sangat lemah dan goyah (shaking), atau bicaranya tidak jelas. Penyebab umum dari cerebral palsy adalah kekurangan oksigen saat kelahiran.

Gangguan kejang-kejang. Jenis yang paling kerap dijumpai adalah epilepsi, gangguan saraf yang biasanya ditandai dengan serangan terhadap sensorimotor atau kejang-kejang.

D.                Retardasi Mental

Retardasi mental adalah kondisi sebelum usia 18 tahun yang ditandai dengan rendahnya kecerdasan (biasanya IQ-nya di bawah 70) dan sulit beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari. Lama sebelum muncul tes formal untuk menilai kecerdasan, orang dengan retardasi mental dianggap sebagai orang yang tidak dapat menguasai keahlian yang sesuai dengan umurnya dan tak bisa merawat dirinya sendiri. Nilai tes kecerdasan dipakai untuk menunjukkan seberapa parahkah retardasi seseorang. Seorang anak mungkin mengalami retardasi ringan dan dapat belajar di kelas umum, atau mungkin parah dan tidak bisa belajar di kelas umum.

Retardasi mental digolongkan menjadi retardasi ringan, moderat, berat dan parah.

TIPE RETARDASI MENTAL
RENTANG IQ
PERSENTASE
Ringan
55-70
89
Moderat
40-54
6
Berat
25-39
4
Parah
<25
1

E.                 Gangguan bicara dan Bahasa

Gangguan Artikulasi. Gangguan artikulasi adalah problem dalam pengucapan suara secara benar. Artikulasi pada anak usia enam atau tujuh tahun tidak selalu bebas dari kesalahan, tetapi pada usia delapan semestinya artikulasi mereka sudah tidak salah lagi.

Gangguan Suara. Gangguan suara tampak dalam ucapan yang tidak jelas, keras, terlalu kencang, terlalu tinggi, atau terlalu rendah. Suara anak-anak yang berbibir sumbing biasanya sulit dimengerti.

Gangguan Kefasihan. Gangguan kefasihan atau kelancaran bicara biasanya dinamakan "gagap". Kondisi ini terjadi ketika ucapan anak terbata-bata, jeda panjang, atau berulang-ulang.

Gangguan Bahasa. Gangguan bahasa adalah kerusakan signifikan dalam bahasa reseptif atau bahasa ekspresif anak. Gangguan bahasa dapat menyebabkan problem belajar serius (Bernstein & Tiegerman-Farber, 2002).

F.                 Ketidakmampuan belajar

Berdasarkan definisinya, anak yang menderita gangguan belajar: (1) punya kecerdasan normal atau di atas normal; (2) kesulitan dalam setidaknya satu mata pelajaran atau biasanya beberapa mata pelajaran; (3) tidak memiliki problem atau gangguan lain, seperti retardasi mental, yang menyebabkan kesulitan itu.

Konsep umum gangguan atau ketidakmampuan belajar mencakup problem dalam kemampuan mendengar, berkonsentrasi, berbicara, berpikir, memori, membaca, menulis, dan mengeja, dan/ atau keterampilan sosial (Kamphaus, 2000). Dyslexia adalah kerusakan parah dalam kemampuan untuk membaca dan mengeja.

G.                Attention Deficit Hyperactivity Disorder

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah bentuk ketidakmampuan anak yang ciri-cirinya antara lain: (1) kurang perhatian; (2) hiperaktif; dan (3) impulsif. Anak yang kurang perhatian (inattentive) sulit berkonsentrasi pada satu hal dan mungkin cepat bosan mengerjakan tugas, Anak hiperaktif menunjukkan level aktivitas fisik yang tinggi, hampir selalu bergerak. Anak impulsif sulit mengendalikan reaksinya dan gampang bertindak tanpa pikir panjang.

H.                Gangguan Perilaku dan Emosional

Perilaku Agresif, di Luar Kontrol. Beberapa anak yang digolongkan memiliki gangguan emosional serius dan melakukan tindakan yang mengganggu, agresif, membangkang, atau membahayakan, biasanya akan dikeluarkan dari sekolah (Terman, dkk., 1996).

Depresi, Kecemasan, dan Ketakutan. Beberapa anak memendam problem emosional mereka. Depresi, kecemasan, dan ketakutan mereka menjadi makin hebat dan menetap sehingga kemampuan mereka dalam belajar makin menurun. Depresi adalah jenis gangguan mood di mana pengidapnya merasa dirinya tak berharga sama sekali, percaya bahwa keadaan tidak akan pernah membaik, dan tampak lesu dan tidak bersemangat dalam jangka waktu yang lama. Kecemasan (anxiety) adalah perasaan yang tidak menentu sekaligus tidak menyenangkan (Kowlski, 2000).




Pedagogi & Andragogi

A.                PEDAGOGI


Pedagogi adalah teori belajar yang dikembangkan untuk anak-anak atau belajar dimasa anak-anak, dimana pembelajaran disebut “siswa” atau “anak didik”. Pedagogi menggunakan metode pembelajaran dependen atau satu arah dimana tujuan pembelajarannya ditentukan sebelumnya agar anak-anak atau siswa bisa mempelajarai materi sebelum pembelajaran dikelas. Namun dalam pedagogi siswa diasumsikan tidak berpengalaman dan kurang mendapat informasi tentang materi karena siswa hanya mengharap bahan/materi dari guru,karena dalam pedagogi guru adalah sebagai sumber utama yang memberikan ide-ide dan contoh.

Malcolm S. Knowles (1970) meyatakan beberapa prinsip disiplin ilmu dalam pedagogi:
o   Pembelajar disebut “siswa” atau “anak didik”.
o   Gaya belajar dependen.
o   Tujuan ditentukan sebelumnya.
o   Diasumsikan bahwa siswa tidak berpengalaman dan atau kurang informasi .
o   Metode pelatihan pasif, seperti metode kuliah atau ceramah.
o   Guru mengontrol waktu dan kecepatan
o   Peserta berkontribusi sedikit pengalaman
o   Belajar berpusat pada isi atau pengetahuan teoritis
o   Guru sebagai sumber utamayang memberikan ide-ide dan contoh.

B.                 ANDRAGOGI


Andragogi adalah bentuk pembelajran orang dewasa yang digunakan dalam rancangan pelatihan organisasi, khususnya uuntuk domain keterampilan lunak (soft skill),seperti pengembangan manajemen. Seni mengajar orang dewasa berlaku di semua tempat ,ketika peserta didik atau warga belajarnya menunjukkan tanda-tanda kedewasaan yang baik. Sehingga aplikasi andragogi berlaku di ruang-ruang kursus, pelatihan, pembekalan, pembimbingan khusus, bimbingan khusus, bimbingan profesional, pemberantasaan buta aksara, keaksaraan fungsional, dan lain-lain.

Andragogi banyak dipengaruhi oleh karakteristik pembelajaran dewasa, yaitu sebagai berikut:
o   Pelajar dewasa biasanya memiliki maksud yang terindentifikasi
o   Pelajar dewasa biasanya memiliki pengalaman sebelumnya,baik positif maupun negatif,dengan pendidikan diselenggarakan
o   Pelajar dewasa ingin segera mengambil manfaat dari hasil belajarnya
o   Pelajar dewasa memiliki konsep-diri secara satu arah
o   Pelajar dewasa membawa dirinya dengan reservoir pengalaman
o   Pelajar dewasa belajar membawa keraguan dan ketakutan yang luas bagi proses pendidikan
o   Pelajar dewasa biasanya sangat kuat pada ketahanaan perubahan
o   Gaya pelajar dewasa biasnya diatur
o   Pelajar dewasa memiliki “tujuan yang dewasa”
o   Masalah pelajar dewasa yang berbeda dari masalah anak-anak
o   Pelajar dewasa biasanya memiliki sebuah keluarga mapan
o   Waktu reaksi pembelajar orang dewasa sering lambat

Malcolm S. Knowles (1970) juga  menyatakan beberapa disiplin ilmu dalam andragogi:
o   Pembelajar disebut”peserta didik” atau “warga belajar”.
o   Gaya belajar independen, artinya pembelajaran tidak berpusat pada guru.
o   Tujuan fleksibel.
o   Diasumsikan bahwa peserta didik memiliki pengalaman untuk berkontribusi.
o   Menggunakan metode pelatihan aktif..
o   Pembelajar mempengaruhi waktudan kecepatan.
o   Keterlibatan atau kontribusi peserta sangat penting.
o   Belajar berpusat pada masalah kehidupan nyata.
o   Peserta dianggap sebagai sumber daya utama untuk ide-ide dan contoh.

Malcom S.Knowles secara lebih rinci menyajikan asumsi dan proses pedagogo untuk dibedakan dengan andragogi.  Asumsi dan proses dimaksudkan disajikan berikut ini :
Asumsi
Pedagogi
Andragogi
Konsep diri
Ketergantungan
Peningkatan arah diri atau kemandirian
Pengalaman
Berharga kecil
Pelajar merupakan sumber daya yang kaya untuk belajar
Kesiapan
Tugas perembangan: tekanan sosial
Tugas perkembangan: peran sosial
Perspektif waktu
Aplikasi ditunda
Kecepatan aplikasi
Orientasi untuk belajar
Berpusat pada substansi mata pelajaran
Berpusat pada masalah
Iklim belajar
Berorientasi otoritas, resmi,dan kompetitif
Mutualitas atau pemberian pertolongan, rasa hormat, kolaborasi,dan informal
Perencanaan & perumusan tujuan
Oleh guru
Reksa (mutual) diagnosis diri
Desain
Logika materi pelajaran, unit konten
Reksa negosiasi
Kegiatan
Teknik pelayanan
Diurutkan dalam hal kesiapan unit masalah
Evaluasi
Oleh guru
Teknik pengalaman



Another Perspective Designed by Templateism | Blogger Templates Copyright © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.